# THANYA

Ini bukan seperti goresan sebelumnya,
Ini sedikit berbeda dari biasanya.
Bukan kiasan dan sajak yang jadi pusat perhatian,
Melainkan tentang alkisah yang sebenarnya cukup sederhana,
Namun berubah bergoncang karena badai topan menghadang.

Kisah ini dimulai dari sebuah pertanyaan yang timbul tanpa sebab yang terperinci,
"Apa itu sebenar-benarnya kebenaran??" adalah asal mula pemikiran, sikap, dan tindakan tercipta nan akhirnya mendarah daging.
Penulis masih dalam fase bimbang tentang karakter pemeran utama dalam ceritanya kali ini.
Sepertinya dia sempat lalai yang berujung tercebur di dalamnya keambiguan.

Dalam skenario buatannya,
Pemeran utama digambarkan dengan sosok yang sebenarnya sudah sesuai dengan rencana.
Tapi secara tiba-tiba datang badai pasir yang melencengkan rancangan yang sudah ditetapkan.
Tokoh yang dibuat mendapat sedikit pembeda dari tokoh lain.
Kita sebut dia sebagai "Thanya"

Seperti namanya Thanya penuh dengan pertanyaan di otaknya.
Dia jarang bercerita dan berhenti dengan jabatan sebagai pendengar.
Bukan karena ingin, tapi karena dia tidak tau-menau harus merespon hal-hal tidak terduga.
Thanya hidup dalam bingar -bingar yang tak semua mendapati dan tak semua orang mengingini.
Bisa dibilang Thanya sedang mencari arah dimana ada ruang untuk dia bernaung.

Kata-kata dengan tanda tanya di otaknya terus-menerus berkeliling mencoba mencari jawaban yang belum bisa dipecahkan hingga detik ini.
Mengapa dia bisa terjebak dalam posisi krusial ini bahkan dia tidak berani memutuskan atau bahkan menyalahkan.
Ada kalanya Thanya meletakkan dirinya dalam posisi bahwa dia adalah korban dan bukan pelaku..

Bukan tanpa alasan,

Thanya terlahir sebagai yang terakhir,
Terlahir dengan rasi bintang yang rancu,
Terlahir dengan mulut yang kaku,
Juga terlahir dengan kemampuan untuk memendam dan membungkam rasa dalam raga.

Pada mulanya dia selayaknya anak sebaya yang heboh dan mencurahkan semua yang ada pada hati dan matanya.
Sampai ada masa dimana Thanya bersama wanita paruh baya yang konvensional dituntut untuk menurut dan patuh dengan dalil "Aku ingin yang terbaik untuk kamu".
Penulis dan Thanya sepakat bahwa ini tidak untuk sekadar menyalahkan tapi ini hanya melimpahkan apa yang selama ini dipangku oleh bahu.

Kembali kepada masa lalu dimana nilai adalah segalanya bagi wanita paruh baya itu.
Hidup dengan prinsip "Kamu hanya boleh tetap atau menanjak".
Kesempurnaan dikejar dengan alasan dari antah berantah.
Itu penyebab pertama mengapa Thanya merubah diri jadi lebih meluaskan kata 'diam' dalam benaknya.

Kemudian disuatu masa dengan latar belakang yang sama yaitu masa lalu,
Thanya hidup serasa tanpa pilihan..
Karena ruang untuk dia bisa memilih dan memutuskan dianggap belum terlalu berdampak dan sementara dirampas dalam batas waktu yang belum ditentukan.
Berakibat hak pilihnya memudar dan membuat Thanya selalu bimbang, selalu khawatir, dan selalu bingung.
Mungkin terkesan melebih-lebihkan tapi Thanya menjadi pribadi yang belum bisa mengenali jati diri.
Thanya belum bisa memilah apa yang dimau, apa yang dia suka, apa yang dikuasai, apa yang tidak dimau, apa yang dia kurang bahkan tidak suka, dan apa yang tidak dikuasai, serta mau jadi apa dia...

Dengan paham yang ditanam bahwa semua diperlakukan dengan sama rata,
Terlalu sama rata hingga dirasa kurang cukup ada keadilan..
Karena sama rata wanita paru baya itu berarti membenarkan perbandingan.
Hal yang benar-benar dihindari oleh Thanya.

Menurut beliau perbandingan dalam pertarungan akan menghasilkan motivasi dan semangat..
Tapi dalam pandangan Thanya, dibandingkan adalah akar dari tumbangnya gairah Thanya untuk berjuang mendapatkan apa yang di depan mata.
Menunjukkan bahwa tak selamanya 'harus sama' jadi kuncinya.

Thanya seperti tidak bisa hidup tanpa campur tangan wanita itu..
Kesamaan Thanya, si wanita paruh baya dan juga penulis hanya satu yaitu terlalu bertindak sebagai visioner tanpa berpikir konsekuensi dan timbal baliknya.
Masing-masing dari wanita itu dan Penulis telah mengagendakan setting cerita untuk Thanya.
Sedangkan Thanya terperangkap dalam kebiasaan 'terima jadi saja'

Pijakan kaki masih terlalu rapuh untuk bisa berdiri tegak.
Alat gerak pada tubuhnya tak berfungsi seperti yang seharusnya.
Tidak hanya pergerakan kaki tangannya yang di batasi,
Tapi pembatasan hati dan akal juga masuk dalam golongannya.

Sampai tiba dia dilepaskan dan hak pilih yang telah usang dikembalikan.
Thanya yang sudah dalam zona nyaman dan tak mau berpindah kembali kehilangan arah..
Dia tak mengerti bagaimana cara memilih pilihan yang tepat 
Yang dipikirkannya sekarang hanya bagaimana langkah dia agar memilih dan memutuskan dengan cepat dan tepat yang sempurna dan tidak memunculkan penyesalan..

Kelepasan tangan si wanita paruh baya membuat dia sangat ketakutan.
Kepungan lingkungan dunia di masa sekarang membuat Thanya sering mengalami sesak napas.
Seakan terjerat oleh cibiran orang-orang disekitar yang membuatnya tak bisa kemana-mana dan berakhir tanpa perkembangan.
Umurnya saja yang menua, tapi jauh ke dalamnya Thanya masih seorang gadis kecil yang dipaksa menjadi belia oleh lingkaran waktu..

Berbicara tentang ramainya isi kepala yang buat dia semakin lambat dalam percobaan menjadi dewasa.
Terlalu sering terjatuh dalam lubang kesengsaraan.
'Tegas' bukan kata yang cocok untuk Thanya,
Dia hanya pecundang yang munafik dengan persona luar biasa di depan banyaknya kalangan manusia yang berinteraksi juga bersosialisasi.

Bagaimana Thanya akan bertahan dengan kerasnya semesta..?
Terlintas dipikirannya bahwa dia ingin mengakhiri hidup yang dianggapnya tidak memuaskan ini.
Karena kalutnya dia tentang suara-suara yang mengatakan bahwa dia bukan apa-apa dan tidak bisa jadi apa-apa..
Kesulitannya memihak juga menyebabkan dia tak bisa menghampiri garis finish hingga sekarang.
Karena dia merasa tak pantas ada bumi ataupun di tempat indah dibalik awan..

Sementara cerita berakhir pada kalimat bahwa dia tau betul niat dari si wanita itu yang terlebih dahulu mencicipi rasa dunia...
Tapi juga perlu diingat bahwa,
Seperti kita manusia yang belum tentu tau apa yang terbaik untuk kita dan merasa bahwa yang terbaik adalah mengandalkan diri sendiri padahal belum tentu itu adalah kebenaran sang khalik, begitu pula antar sesama insan yang bahkan berbeda guratan otak di tiap kepala...
Semulia apapun niatan wanita paruh baya itu menjadikan Thanya yang paling bersinar, jika Pemilik alam semesta berkata sinar bukan milik Thanya, maka sekeras apapun mencoba, Thanya tidak akan bersinar dengan cara si wanita paruh baya itu.....

Komentar